SERI OBSTETRI GINEKOLOGI SOSIAL PEDOMAN MASYARAKAT 1 DARI 5
PEDOMAN MASYARAKAT

PEDOMAN PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI BERBASIS MASYARAKAT

Edisi Revisi Hasil Audit Penuh — Juli 2026
[Nama Dinas Kesehatan/Institusi Pengampu]
Penulis: Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Penerbit: Perpustakaan ABBA
Alamat Penerbit: Jl Danau Kerinci No 9 Malang
Buku Sumber (Seri 14 Buku Ajar): Buku 13
1LATAR BELAKANG

1.1 Konteks Permasalahan

Kesehatan reproduksi merupakan salah satu determinan utama derajat kesehatan masyarakat, mencakup kesehatan ibu dan bayi baru lahir, keluarga berencana, pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender, hingga kesehatan reproduksi remaja. Program yang hanya berorientasi pada pelayanan klinis di fasilitas kesehatan (faskes) belum cukup untuk menjangkau seluruh sasaran, terutama kelompok rentan di wilayah dengan akses terbatas, sehingga diperlukan pendekatan berbasis masyarakat yang melibatkan kader, tokoh masyarakat, dan lintas sektor.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menegaskan bahwa upaya kesehatan reproduksi merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat yang bersifat promotif dan preventif, dilaksanakan berjenjang dari tingkat keluarga, masyarakat, hingga fasilitas pelayanan kesehatan. Secara lebih teknis, ruang lingkup pelayanan kesehatan reproduksi nasional diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, yang merujuk pada kerangka International Conference on Population and Development (ICPD) Kairo 1994: kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan penanganan infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanganan komplikasi aborsi, kesehatan reproduksi usia lanjut, deteksi dini kanker saluran reproduksi, serta isu kesehatan reproduksi lain seperti kekerasan seksual.

1.2 Analisis Situasi Berbasis Data Epidemiologi Lokal

Perencanaan program yang baik wajib dimulai dari analisis situasi (situational analysis) menggunakan data epidemiologi setempat, bukan asumsi umum. Pendekatan ini sejalan dengan metodologi analisis situasi yang digunakan dalam Pedoman Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas (Kemenko PMK, Kemendagri, dan BKKBN, 2023), yang mensyaratkan pemetaan jumlah penduduk, kematian ibu dan bayi, stunting, serta kondisi sosial-ekonomi wilayah sebagai dasar rencana kegiatan. Dinas Kesehatan/Puskesmas pengampu program WAJIB mengisi dan memutakhirkan data berikut sebelum menyusun rencana kerja, dengan sumber data resmi — bukan data yang dikarang:

NoIndikator Situasi LokalSumber Data RujukanKeterangan Pengisian
1Angka Kematian Ibu (AKI) wilayah kerjaLaporan Kematian Ibu Puskesmas/Dinkes, SDKI, Profil Kesehatan Kab/Kota[Diisi data terbaru wilayah]
2Cakupan Kunjungan Antenatal (K1/K4)Sistem Informasi Kesehatan (SIK)/e-Kohort Puskesmas[Diisi data terbaru wilayah]
3Cakupan peserta KB aktifLaporan BKKBN/Dinkes setempat; Rumah Data Kependudukan BKKBN (rumahdataku.bkkbn.go.id)[Diisi data terbaru wilayah]
4Prevalensi pernikahan usia anakData Dukcapil/Pengadilan Agama setempat[Diisi data terbaru wilayah]
5Kasus kekerasan berbasis gender terlaporkanUPTD PPA, P2TP2A, Puskesmas Ramah Anak[Diisi data terbaru wilayah]
6Sebaran geografis wilayah sulit aksesPeta wilayah kerja Puskesmas, data BPS[Diisi data terbaru wilayah]

Catatan: Dokumen ini tidak mencantumkan angka cakupan atau statistik program secara spesifik karena data tersebut bersifat dinamis dan wajib bersumber dari data primer wilayah kerja masing-masing, bukan estimasi atau data yang dikarang oleh penyusun pedoman.

1.3 Kesenjangan yang Mendorong Perlunya Pedoman

  • Keterbatasan jangkauan layanan klinis di wilayah geografis sulit, sehingga peran kader dan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) menjadi penting.
  • Rendahnya literasi kesehatan reproduksi di tingkat keluarga dan masyarakat, termasuk stigma terhadap layanan KB dan kesehatan reproduksi remaja.
  • Belum optimalnya koordinasi lintas sektor (kesehatan, pendidikan, sosial, agama, penegak hukum) dalam penanganan kasus kesehatan reproduksi yang kompleks, termasuk kekerasan berbasis gender.
  • Perlunya penggerak teknis yang memahami dimensi klinis sekaligus sosial, yaitu tenaga Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial (Obginsos) sebagaimana diatur dalam standar kompetensi nasional.

1.4 Landasan Hukum dan Konsep Internasional

Secara nasional, pedoman ini berpijak pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan beserta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sebagai peraturan pelaksananya, Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sebagai dasar kelembagaan BKKBN, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/MENKES/SK/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran, serta Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi yang menetapkan kompetensi Subspesialis Obginsos, antara lain audit maternal-perinatal, manajemen holistik biopsikososial kehamilan risiko tinggi, penanganan kekerasan berbasis gender, serta manajemen program kesehatan reproduksi.

Secara konsep, pendekatan Obginsos memiliki akar sejarah internasional pada gagasan social obstetrics yang dipelopori Sir Dugald Baird di Aberdeen, Skotlandia, sejak akhir 1930-an. Baird menghubungkan luaran obstetri dengan faktor sosial-ekonomi masyarakat dan mendirikan Aberdeen Maternity and Neonatal Databank pada 1951 sebagai basis data populasi untuk penelitian dan kebijakan kesehatan ibu — gagasan yang menjadi cikal bakal pendekatan populasi dalam obstetri modern.

Standar teknis internasional yang relevan mencakup Inter-agency Field Manual on Reproductive Health in Humanitarian Settings (edisi 2018) yang diterbitkan oleh Inter-Agency Working Group on Reproductive Health in Crises (IAWG) sebagai pemutakhiran dari Reproductive Health in Refugee Situations: An Inter-Agency Field Manual (1999); WHO Guideline on Health Policy and System Support to Optimize Community Health Worker Programmes (WHO, 2018) sebagai acuan pengelolaan kader; serta FIGO-ICM Joint Statement on Contraception yang mendorong integrasi konseling kontrasepsi ke dalam layanan antenatal dan pascapersalinan berbasis masyarakat.

2TUJUAN

2.1 Tujuan Umum

Menjadi acuan bagi Dinas Kesehatan, Puskesmas, kader kesehatan masyarakat, dan pemangku kepentingan lintas sektor dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi program kesehatan reproduksi berbasis masyarakat secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan, selaras dengan standar kompetensi Subspesialis Obginsos serta standar internasional yang relevan.

2.2 Tujuan Khusus

  1. Memberikan langkah operasional penyusunan rencana program kesehatan reproduksi berbasis masyarakat mulai dari analisis situasi hingga evaluasi.
  2. Menjabarkan peran dan mekanisme koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan program.
  3. Menyediakan contoh logic model program yang dapat diadaptasi oleh Dinas Kesehatan/Puskesmas sesuai konteks wilayah masing-masing.
  4. Menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi serta indikator keberhasilan program yang terukur, dengan memperhatikan standar pengelolaan kader menurut WHO (2018).
  5. Memperkuat kapasitas kader dan tenaga non-spesialis dalam mengenali kasus yang memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan atau layanan Obginsos.
3SASARAN

3.1 Sasaran Pengguna Pedoman

  • Pengelola program kesehatan reproduksi di Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota.
  • Kepala Puskesmas dan pengelola program KIA-KB, promosi kesehatan, dan surveilans di Puskesmas.
  • Kader kesehatan masyarakat (Posyandu, Posyandu Remaja, kader KB, kader Pos Pembinaan Terpadu).
  • Tenaga pelatih (Training of Trainers) kesehatan reproduksi.
  • Pemangku kepentingan lintas sektor: pendidikan, sosial, agama, penegak hukum, organisasi masyarakat, dan mitra pembangunan.

3.2 Sasaran Penerima Manfaat Program

  • Ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas di wilayah kerja.
  • Pasangan usia subur dan calon pengantin.
  • Remaja dan calon orang tua.
  • Kelompok rentan: penyandang disabilitas, korban kekerasan berbasis gender, masyarakat di wilayah sulit akses/terdampak bencana.
4RUANG LINGKUP

Pedoman ini mencakup ruang lingkup perencanaan dan pelaksanaan program di tingkat masyarakat, dengan batasan sebagai berikut:

AspekTermasuk dalam Ruang LingkupTidak Termasuk (Merujuk Dokumen Lain)
Jenis dokumenPedoman/Juknis program dan populasiPanduan Praktik Klinis (PPK) individual pasien
SasaranKader, Puskesmas, Dinkes, lintas sektorTata laksana medis rinci per kasus di ruang periksa
AktivitasPerencanaan, edukasi masyarakat, rujukan komunitas, monev programProsedur klinis/tindakan medis spesifik
Cakupan wilayahTingkat keluarga, masyarakat, dan PuskesmasTata laksana rumah sakit rujukan tersier
Substansi kesehatan reproduksiMengikuti ruang lingkup PP No. 61 Tahun 2014: KIA, KB, IMS/HIV, kesehatan reproduksi remaja dan lanjut usia, deteksi dini kanker saluran reproduksi, kekerasan seksualTata laksana klinis definitif kasus kompleks (rujukan RS)
5DEFINISI OPERASIONAL
IstilahDefinisi Operasional (Bahasa Awam)
Kesehatan Reproduksi Berbasis MasyarakatRangkaian kegiatan promotif dan preventif kesehatan reproduksi yang dilaksanakan langsung di tingkat keluarga dan masyarakat, digerakkan oleh kader dengan dukungan teknis Puskesmas.
Kader Kesehatan (Community Health Worker)Anggota masyarakat terlatih yang membantu penyuluhan, deteksi dini, dan pendampingan rujukan kasus kesehatan reproduksi di wilayahnya. Pengelolaannya mengikuti domain rekomendasi WHO (2018): seleksi, pendidikan pra-tugas, sertifikasi, supervisi, dan jenjang karier.
Obginsos (Obstetri Ginekologi Sosial)Subspesialisasi kedokteran yang menggabungkan kompetensi klinis obstetri-ginekologi dengan kesehatan masyarakat, psikologi, hukum, dan kebijakan publik. Menurut Keputusan Konsil Kesehatan Indonesia No. HK.01.02/KKI/1318/2026, populasi fokusnya adalah populasi rentan, remaja, korban kekerasan, atau kehamilan risiko sosial-ekonomi tinggi.
Rujukan KomunitasProses pengiriman kasus dari tingkat keluarga/masyarakat ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan lanjutan berdasarkan alur dan kriteria yang disepakati.
Logic Model ProgramKerangka berpikir yang menghubungkan input, proses, output, dan outcome suatu program secara logis dan terukur.
Lintas SektorInstansi di luar sektor kesehatan (pendidikan, sosial, agama, penegak hukum, dan lainnya) yang berperan dalam mendukung keberhasilan program kesehatan reproduksi.
6STRATEGI DAN LANGKAH PELAKSANAAN

6.1 Alur Umum Pelaksanaan Program

Analisis Situasi
Perencanaan Program
Penguatan Kader
Edukasi Masyarakat
Deteksi Dini & Rujukan
Monitoring-Evaluasi

6.2 Alur Rujukan Komunitas

Ditemukan Kader
Skrining Awal
Rujuk Puskesmas
Tindak Lanjut Klinis/Obginsos
Umpan Balik ke Kader

Kader yang menemukan kasus di lapangan melakukan skrining awal menggunakan formulir deteksi dini sederhana, kemudian merujuk ke Puskesmas. Puskesmas memberikan umpan balik hasil tindak lanjut kepada kader agar pendampingan di tingkat masyarakat dapat berlanjut secara terkoordinasi.

6.3 Contoh Logic Model Program

Berikut contoh konkret logic model untuk program “Penguatan Deteksi Dini Risiko Kehamilan Berbasis Kader”, yang dapat diadaptasi oleh Dinkes/Puskesmas sesuai konteks lokal:

KomponenUraian Contoh Konkret
InputKader terpilih dan terlatih sesuai domain seleksi-pendidikan pra-tugas WHO (2018), formulir skrining risiko kehamilan, dana operasional Posyandu, dukungan tenaga Puskesmas dan Obginsos, media edukasi (lembar balik/poster).
ProsesPelatihan dan sertifikasi kader, kunjungan rumah ibu hamil, pengisian formulir skrining, penyuluhan kelompok di Posyandu, koordinasi rujukan ke Puskesmas, supervisi berkala.
OutputJumlah kader terlatih yang aktif melakukan skrining; jumlah ibu hamil yang terskrining; jumlah kasus risiko tinggi yang dirujuk tepat waktu.
OutcomePeningkatan deteksi dini risiko kehamilan di tingkat masyarakat; penurunan keterlambatan rujukan kasus risiko tinggi ke fasilitas kesehatan.
Catatan: Target angka pada kolom output/outcome WAJIB diisi oleh Dinkes/Puskesmas berdasarkan data dasar (baseline) wilayah masing-masing, bukan angka baku dari pedoman ini.

6.4 Langkah Pelaksanaan Bertahap

  1. Tahap Persiapan: pembentukan tim penggerak program, pemetaan wilayah, dan penetapan kader.
  2. Tahap Perencanaan: penyusunan rencana kerja tahunan berbasis hasil analisis situasi dan logic model.
  3. Tahap Pelaksanaan: pelatihan kader, edukasi masyarakat, skrining dan deteksi dini, serta pendampingan rujukan.
  4. Tahap Monitoring: pencatatan dan pelaporan berkala menggunakan instrumen yang disepakati.
  5. Tahap Evaluasi: penilaian pencapaian indikator dan penyusunan rencana tindak lanjut.
7PERAN LINTAS PROGRAM DAN LINTAS SEKTOR

Keberhasilan program kesehatan reproduksi berbasis masyarakat memerlukan kolaborasi lintas program di lingkup kesehatan dan lintas sektor di luar kesehatan. Tabel matriks berikut menjabarkan aktor, peran, dan output yang diharapkan.

AktorPeranOutput
Konsil Kesehatan IndonesiaMenetapkan standar kompetensi Subspesialis Obginsos sebagai acuan teknis nasionalStandar kompetensi Obginsos berlaku nasional
Dinas KesehatanRegulasi teknis, penganggaran, supervisi, dan pembinaan PuskesmasKebijakan dan rencana kerja program tersedia
PuskesmasKoordinator teknis lapangan, pelatihan kader, pelayanan rujukanPelayanan dan sistem rujukan berjalan
Kader KesehatanEdukasi, skrining awal, pendampingan rujukan di masyarakatKasus terdeteksi dini dan terpantau
Dokter Subspesialis ObginsosPenggerak teknis, konsultan rujukan, pengembang materi edukasiStandar teknis program terjaga
Dinas PendidikanIntegrasi edukasi kesehatan reproduksi remaja di sekolahMateri edukasi remaja tersampaikan
Dinas Sosial/UPTD PPAPenanganan kasus kekerasan berbasis gender dan rujukan psikososial sesuai UU No. 12/2022 (UU TPKS)Layanan perlindungan korban berjalan
BKKBN/Kampung Keluarga BerkualitasIntegrasi data kependudukan dan konvergensi program KB-kesehatan reproduksi tingkat desaKonvergensi program lintas sektor tingkat desa
Tokoh Agama/MasyarakatAdvokasi dan penguatan penerimaan sosial programDukungan sosial masyarakat meningkat
BNPB/BPBD (konteks bencana)Koordinasi kesiapsiagaan layanan kesehatan reproduksi pada situasi darurat mengacu IAWG Field Manual 2018Kesinambungan layanan saat bencana terjaga

Kolaborasi antara dokter Obginsos/tenaga Puskesmas dengan bidan turut diperkuat melalui FIGO-ICM Joint Statement on Contraception, yang merekomendasikan integrasi konseling kontrasepsi ke dalam kunjungan antenatal dan skrining kehamilan berbasis komunitas, termasuk penguatan akses kontrasepsi pascapersalinan.

8MONITORING DAN EVALUASI

8.1 Mekanisme Monitoring

  • Pencatatan rutin bulanan oleh kader menggunakan formulir skrining dan buku registrasi Posyandu.
  • Pelaporan berjenjang dari kader ke Puskesmas, dan dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan, sesuai jadwal pelaporan yang berlaku.
  • Supervisi fasilitatif berkala oleh Puskesmas dan pendampingan teknis oleh Obginsos minimal setiap triwulan, sejalan dengan rekomendasi supervisi kader dalam WHO Guideline on Community Health Worker Programmes (2018).
  • Pemanfaatan sistem informasi kesehatan yang sudah berjalan (mis. e-Kohort, atau sistem informasi Dinkes setempat) untuk konsolidasi data.

8.2 Mekanisme Evaluasi

  • Evaluasi tengah tahun (mid-term) untuk menilai capaian terhadap target output.
  • Evaluasi akhir tahun untuk menilai capaian outcome dan menyusun rencana tindak lanjut tahun berikutnya.
  • Evaluasi partisipatif melibatkan kader dan masyarakat untuk menjaring umpan balik kualitatif.

8.3 Instrumen Monitoring-Evaluasi

InstrumenFungsiPenanggung Jawab
Formulir skrining risikoMencatat hasil deteksi dini di tingkat masyarakatKader
Buku registrasi kohortMemantau tindak lanjut kasus per individuPuskesmas
Laporan bulanan programKonsolidasi data cakupan dan capaian kegiatanPuskesmas/Dinkes
Formulir umpan balik rujukanMenjaga kesinambungan informasi antara Puskesmas dan kaderPuskesmas
9INDIKATOR KEBERHASILAN

Indikator berikut disajikan dalam format ringkas bergaya dashboard sebagai acuan; nilai target numerik WAJIB ditetapkan oleh Dinkes/Puskesmas berdasarkan data dasar (baseline) masing-masing wilayah, bukan angka baku dari pedoman ini.

IndikatorTarget (diisi Dinkes/Puskesmas)Sumber Data
Persentase kader aktif terlatih dan tersertifikasi[Diisi sesuai baseline wilayah]Data pelatihan Puskesmas
Persentase sasaran yang mendapat skrining[Diisi sesuai baseline wilayah]Formulir skrining kader
Persentase kasus risiko tinggi dirujuk tepat waktu[Diisi sesuai baseline wilayah]Buku registrasi kohort
Persentase rujukan dengan umpan balik ke kader[Diisi sesuai baseline wilayah]Formulir umpan balik rujukan
Cakupan integrasi konseling kontrasepsi pada layanan antenatal/pascapersalinan berbasis masyarakat[Diisi sesuai baseline wilayah]Laporan Puskesmas, mengacu FIGO-ICM (2024)
Jumlah kegiatan edukasi masyarakat terlaksana[Diisi sesuai baseline wilayah]Laporan bulanan program
10PEMBIAYAAN

Pembiayaan program kesehatan reproduksi berbasis masyarakat dapat bersumber dari kombinasi anggaran berikut, disesuaikan dengan ketersediaan dan regulasi daerah masing-masing:

  • Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui Dinas Kesehatan.
  • Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan sesuai peruntukan program kesehatan reproduksi/KIA-KB.
  • Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk kegiatan promotif-preventif tingkat desa, termasuk konvergensi dengan program Kampung Keluarga Berkualitas.
  • Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas.
  • Kemitraan dengan mitra pembangunan/organisasi non-pemerintah, sepanjang sesuai regulasi dan tidak bertentangan dengan kebijakan daerah.

Perencanaan anggaran WAJIB disusun bersamaan dengan rencana kerja tahunan program agar kegiatan pelatihan kader, edukasi masyarakat, dan monitoring-evaluasi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, selaras dengan mekanisme perencanaan-penganggaran konvergen sebagaimana diatur dalam Pedoman Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas (2023).

11PENUTUP

Pedoman ini disusun sebagai acuan operasional bagi Dinas Kesehatan, Puskesmas, kader, dan pemangku kepentingan lintas sektor dalam merencanakan dan melaksanakan program kesehatan reproduksi berbasis masyarakat secara sistematis, selaras dengan standar kompetensi Subspesialis Obginsos menurut Konsil Kesehatan Indonesia serta standar internasional yang relevan (WHO, IAWG, FIGO-ICM). Keberhasilan pelaksanaannya sangat ditentukan oleh komitmen bersama seluruh pihak, mulai dari tingkat keluarga hingga pemerintah daerah, serta konsistensi dalam pencatatan, pelaporan, dan evaluasi berkala.

Pedoman ini bersifat dinamis dan akan ditinjau ulang secara berkala mengikuti perkembangan regulasi nasional serta pemutakhiran standar teknis internasional, dengan tetap merujuk pada standar kompetensi Subspesialis Obginsos sebagai penggerak teknis program.

12KEPUSTAKAAN
  1. Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Dokumen resmi dilampirkan pengguna; tautan publik belum teridentifikasi pada saat penyusunan dokumen ini.
  2. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. https://peraturan.go.id/id/uu-no-17-tahun-2023
  3. Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. https://peraturan.go.id/id/pp-no-28-tahun-2024
  4. Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. https://peraturan.go.id/id/pp-no-61-tahun-2014
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/MENKES/SK/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran. https://peraturan.go.id/id/permenkes-no-1438-menkes-sk-ix-2010-tahun-2010
  6. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. https://peraturan.go.id/id/uu-no-12-tahun-2022
  7. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. https://peraturan.go.id/id/uu-no-52-tahun-2009
  8. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Pedoman Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas. Jakarta, 2023. https://docu.bkkbndiy.id/wp-content/uploads/2024/05/Pedoman-Optimalisasi-Penyelenggaraan-Kampung-Keluarga-Berkualitas.pdf
  9. Inter-Agency Working Group on Reproductive Health in Crises (IAWG). Inter-agency Field Manual on Reproductive Health in Humanitarian Settings, edisi 2018 (pemutakhiran dari Reproductive Health in Refugee Situations: An Inter-Agency Field Manual, 1999). https://www.iawgfieldmanual.com/manual
  10. World Health Organization. WHO Guideline on Health Policy and System Support to Optimize Community Health Worker Programmes. Geneva: WHO; 2018. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550369
  11. International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO), International Confederation of Midwives (ICM). FIGO-ICM Joint Statement on Contraception. https://www.figo.org/resources/figo-statements/figo-icm-joint-statement-contraception
  12. Aberdeen Medico-Chirurgical Society. Sir Dugald Baird — perintis social obstetrics dan pendiri Aberdeen Maternity and Neonatal Databank (1951). https://med-chi.co.uk/heritage/archive/people/sir-dugald-baird/