PPK 16/19 · Seri Obstetri Ginekologi Sosial Menopause dengan Masalah Biopsikososial
[Nama Rumah Sakit]
KSM Obstetri dan Ginekologi — Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial · [Nama KSM/Departemen]

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

Menopause dengan Masalah Biopsikososial

PPK · PASIEN INDIVIDUAL SERI OBSTETRI GINEKOLOGI SOSIAL — BUKU 9
Nomor Dokumen: [Nomor Dokumen]
Tanggal Berlaku / Tinjau Ulang: [Tanggal Berlaku/Tinjau Ulang]
Penulis/Penyusun: Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Penerbit: Perpustakaan ABBA
Alamat Penerbit: Jl Danau Kerinci No 9 Malang
1. Pengertian (Definisi)

Menopause adalah berhentinya menstruasi secara permanen akibat hilangnya aktivitas folikuler ovarium, ditegakkan secara retrospektif setelah amenore 12 bulan berturut-turut tanpa penyebab patologis lain. Usia median terjadinya di populasi Asia berkisar 48-51 tahun.

Masa transisi menopause (perimenopause) ditandai variabilitas siklus haid dan mulai munculnya gejala vasomotor, mengacu tahapan STRAW+10 (Stages of Reproductive Aging Workshop).

"Masalah biopsikososial" pada menopause mencakup tiga dimensi yang saling memengaruhi:

  • Biologis: gejala vasomotor (hot flashes, keringat malam), Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM), risiko osteoporosis dan kardiovaskular akibat defisiensi estrogen.
  • Psikologis: labilitas mood, ansietas, gejala depresif, gangguan tidur, penurunan citra diri.
  • Sosial: perubahan peran dalam keluarga (sandwich generation), dampak pada relasi seksual/pernikahan, stigma budaya terhadap penuaan perempuan, beban ekonomi pengobatan jangka panjang.

PPK ini disusun mengacu landasan nasional — Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 dan Konsensus Tata Laksana Menopause HIFERI/POGI — serta landasan internasional dari The Menopause Society, FIGO, WHO, dan International Menopause Society (IMS), sesuai kebutuhan pendidikan subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial.

2. Anamnesis
Riwayat Menstruasi dan Gejala Fisik
  • Usia saat ini, tanggal haid terakhir, pola siklus 6-12 bulan terakhir.
  • Gejala vasomotor: frekuensi hot flashes per hari/minggu, derajat mengganggu aktivitas dan tidur.
  • Gejala genitourinari: kekeringan vagina, dispareunia, urgensi/frekuensi berkemih, infeksi saluran kemih berulang.
  • Gejala muskuloskeletal: nyeri sendi, penurunan massa otot.
Riwayat Psikologis dan Sosial
  • Mood swing, iritabilitas, gejala ansietas, gejala depresif (durasi, dampak fungsi harian) — skrining awal dengan wawancara terarah, bukan untuk menegakkan diagnosis psikiatri definitif.
  • Kualitas dan kuantitas tidur (insomnia inisiasi/pemeliharaan).
  • Dampak pada relasi seksual, kepuasan pernikahan, dukungan pasangan.
  • Peran sosial: beban merawat anak dan orang tua lanjut usia secara bersamaan, tekanan pekerjaan, persepsi diri terhadap penuaan.
Riwayat Medis dan Faktor Risiko (Skrining Kontraindikasi MHT)
  • Riwayat pribadi/keluarga kanker payudara atau kanker endometrium.
  • Riwayat tromboemboli vena, stroke, penyakit jantung koroner.
  • Riwayat penyakit hati aktif, perdarahan uterus abnormal yang belum dievaluasi.
  • Kebiasaan merokok, aktivitas fisik, asupan kalsium/vitamin D, konsumsi alkohol.
  • Obat-obatan yang sedang dikonsumsi dan riwayat terapi hormonal sebelumnya.
3. Pemeriksaan Fisik
  • Tanda vital lengkap, indeks massa tubuh (IMT), dan tekanan darah (skrining risiko kardiovaskular sebelum inisiasi MHT).
  • Pemeriksaan payudara klinis.
  • Pemeriksaan ginekologi: inspeksi tanda atrofi vulvovaginal (mukosa pucat, kering, rugae menghilang), nyeri tekan, tanda prolaps.
  • Observasi klinis status mood dan afek selama wawancara sebagai dasar pertimbangan rujukan psikologi/psikiatri, bukan sebagai penegakan diagnosis gangguan jiwa.
4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis menopause ditegakkan secara klinis: amenore 12 bulan berturut-turut pada perempuan usia >45 tahun tanpa penyebab patologis lain — pemeriksaan hormonal rutin tidak diperlukan pada kasus tipikal.

Tahapan transisi reproduktif diklasifikasikan mengacu kerangka Stages of Reproductive Aging Workshop (STRAW+10), acuan internasional yang diadopsi International Menopause Society (IMS) untuk penyeragaman istilah pendidikan dan penelitian subspesialis:

Tahap STRAW+10Penanda SiklusCiri Klinis Dominan
Transisi Akhir (Stage -1)Siklus tidak teratur, interval amenore ≥60 hariMulai muncul gejala vasomotor
Pascamenopause Dini (Stage +1a/b/c)12 bulan pasca haid terakhir hingga tahun ke-6Gejala vasomotor puncak, risiko GSM meningkat
Pascamenopause Lanjut (Stage +2)Tahun ke-6 dan seterusnya pasca haid terakhirGSM & risiko metabolik-tulang dominan

Derajat keparahan masalah biopsikososial dinilai menggunakan Menopause Rating Scale (MRS), instrumen tervalidasi lintas-budaya 11 item dalam 3 domain, dengan data normatif yang mencakup populasi Asia termasuk Indonesia:

Domain MRSKomponen DinilaiRentang Skor
Somatik-vegetatifHot flashes/keringat, gangguan jantung berdebar, gangguan tidur, keluhan otot & sendi0-4 / item (4 item)
PsikologisMood tertekan, iritabilitas, ansietas/kegelisahan, kelelahan fisik & mental0-4 / item (4 item)
UrogenitalMasalah seksual, keluhan berkemih, kekeringan vagina0-4 / item (3 item)
Interpretasi Total Skor MRS (0-44)
  • Ringan: skor 0-16 — tata laksana non-farmakologis dan edukasi menjadi lini pertama.
  • Sedang: skor 17-30 — pertimbangkan farmakoterapi (Terapi Hormon Menopause/non-hormonal) dikombinasi konseling psikososial.
  • Berat: skor ≥31 — farmakoterapi aktif, konseling psikososial terstruktur, dan pertimbangan rujukan multidisiplin (psikiatri/psikologi klinis).
5. Diagnosis Kerja

Menopause dengan Masalah Biopsikososial (padanan ICD-10: N95.1 Menopausal and female climacteric states), dengan pencantuman derajat keparahan berdasarkan skor MRS pada rekam medis.

6. Diagnosis Banding
  • Gangguan tiroid (hipertiroid/hipotiroid) — gejala berdebar, intoleransi suhu, dan perubahan mood dapat menyerupai gejala menopause.
  • Insufisiensi ovarium prematur (Premature Ovarian Insufficiency) bila usia <40 tahun.
  • Gangguan psikiatri primer (episode depresi mayor, gangguan ansietas menyeluruh) yang tidak berkaitan langsung dengan status hormonal.
  • Efek samping obat (antihipertensi, antidepresan tertentu) yang menyerupai gejala vasomotor.
  • Tumor ovarium fungsional atau kondisi ginekologis lain penyebab perdarahan abnormal.
7. Pemeriksaan Penunjang
PemeriksaanIndikasi
FSH & Estradiol serumBila usia <45 tahun atau gambaran klinis meragukan
TSHMenyingkirkan disfungsi tiroid sebagai diferensial
Profil lipid & gula darah puasaSkrining risiko metabolik/kardiovaskular
Densitometri tulang (DXA)Bila terdapat faktor risiko osteoporosis (IMT rendah, riwayat fraktur, merokok)
Mammografi skriningSesuai program skrining nasional usia terkait
Pap smear / skrining serviksSesuai jadwal skrining rutin bila belum dilakukan
8. Tata Laksana (Terapi)

Tata laksana menopause dengan masalah biopsikososial WAJIB dijalankan melalui dua jalur yang berjalan paralel dan saling melengkapi: (A) jalur farmakologis bertingkat — Terapi Hormon Menopause/Menopausal Hormone Therapy (MHT, dahulu lazim disebut HRT) atau non-hormonal, sesuai indikasi dan kontraindikasi eksplisit — dan (B) jalur konseling psikososial. Kedua jalur berjalan bersamaan, bukan sekadar salah satu jalur saja.

Alur Keputusan Tata Laksana
Asesmen
Anamnesis + skor MRS
Stratifikasi
Ringan / Sedang / Berat
Skrining KI
Kontraindikasi MHT?
Jalur A
Farmakologis (MHT/non-hormonal)
Jalur B
Konseling psikososial (paralel)
Evaluasi 3 bulan
Skor MRS ulang
A. Jalur Farmakologis — Terapi Hormon Menopause (Menopausal Hormone Therapy/MHT)

Indikasi: gejala vasomotor derajat sedang-berat (skor MRS domain somatik tinggi) dan/atau GSM simtomatik, usia <60 tahun atau <10 tahun sejak onset menopause, tanpa kontraindikasi absolut — mengacu risk-stratification menurut usia dan jarak waktu sejak menopause yang direkomendasikan The Menopause Society (2022) dan FIGO (2024).

  • Estrogen sistemik dosis rendah (estradiol transdermal 25-50 mcg/hari atau oral 0,5-1 mg/hari) dikombinasi progestogen (mis. dydrogesterone 5-10 mg/hari atau MPA 2,5-5 mg/hari) pada perempuan dengan uterus intak, untuk proteksi endometrium.
  • Estrogen vagina lokal dosis rendah (krim/tablet estradiol vagina 10-25 mcg, 2x/minggu setelah fase pemuatan) untuk GSM tanpa memerlukan progestogen tambahan.
  • Durasi terapi dievaluasi ulang tiap 6-12 bulan; gunakan dosis efektif terendah dalam jangka waktu sesuai tujuan terapi individual, dengan konseling manfaat-risiko individual pada setiap kunjungan evaluasi.
Kontraindikasi Absolut MHT (WAJIB Disingkirkan Sebelum Resep)
  • Riwayat kanker payudara atau kanker endometrium.
  • Riwayat tromboemboli vena (DVT/emboli paru) atau trombofilia diketahui.
  • Riwayat stroke atau penyakit jantung koroner aktif.
  • Penyakit hati aktif berat.
  • Perdarahan uterus abnormal yang belum dievaluasi penyebabnya.
⟡ Pemutakhiran Regulasi & Farmakoterapi (per Juli 2026)

US FDA pada 10 November 2025 memulai penghapusan boxed warning risiko kardiovaskular, kanker payudara, dan demensia probable dari label produk MHT sistemik, dan pada 2026 telah menyetujui perubahan label untuk enam produk pertama; peringatan boxed untuk kanker endometrium pada estrogen tanpa lawan (unopposed) tetap dipertahankan. Kebijakan ini spesifik untuk label produk yang beredar di Amerika Serikat.

Dua golongan non-hormonal baru berbasis antagonis reseptor neurokinin (NK1/NK3) — fezolinetant (disetujui FDA 2023) dan elinzanetant (disetujui FDA Oktober 2025) — menunjukkan efikasi tinggi untuk gejala vasomotor sedang-berat sebagai alternatif non-hormonal selain SSRI/SNRI dan gabapentin.

Sebelum meresepkan golongan neurokinin antagonis atau menyesuaikan konseling risiko MHT berdasarkan pembaruan label FDA, dokter WAJIB memverifikasi status registrasi BPOM RI dan formularium rumah sakit setempat, karena kebijakan regulasi AS tidak otomatis berlaku di Indonesia.

B. Jalur Farmakologis Non-Hormonal (Bila MHT Dikontraindikasikan atau Ditolak Pasien)
  • SSRI/SNRI dosis rendah (mis. paroxetine 7,5-20 mg/hari atau venlafaxine XR 37,5-75 mg/hari) untuk gejala vasomotor sedang-berat; waspadai interaksi dengan tamoxifen (paroxetine/fluoxetine dihindari pada pengguna tamoxifen karena inhibisi CYP2D6).
  • Gabapentin 300-900 mg/hari terbagi, alternatif terutama bila gejala vasomotor dominan malam hari/mengganggu tidur.
  • Antagonis reseptor neurokinin (fezolinetant, elinzanetant) sebagai pilihan lini pertama non-hormonal di negara yang telah meregistrasinya, dengan mekanisme menargetkan jaras neurokinin di pusat termoregulasi hipotalamus — status registrasi di Indonesia agar dikonfirmasi sebelum peresepan rutin.
  • Pelumas dan pelembap vagina non-hormonal untuk GSM ringan-sedang sebagai lini pertama sebelum estrogen lokal.
C. Jalur Konseling Psikososial (Berjalan Paralel dengan Jalur Farmakologis)
  • Konseling individu berbasis Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) — efektif menurunkan dampak gejala vasomotor dan memperbaiki mood serta kualitas tidur, dilakukan oleh psikolog klinis/psikiater terlatih.
  • Edukasi dan pelibatan pasangan/keluarga mengenai perubahan fisik-emosional menopause untuk mengurangi konflik relasi dan meningkatkan dukungan di rumah.
  • Dukungan kelompok sebaya (peer-support group) perempuan menopause untuk mengurangi isolasi sosial dan stigma.
  • Rujukan psikiatri terstruktur bila skrining menunjukkan indikasi gejala depresif/ansietas bermakna yang menetap meski gejala fisik tertangani.
9. Edukasi
  • Menjelaskan bahwa menopause adalah proses fisiologis alami, bukan penyakit, untuk mengurangi kecemasan berlebihan pasien.
  • Edukasi gaya hidup: asupan kalsium 1000-1200 mg/hari dan vitamin D 800-1000 IU/hari, olahraga weight-bearing rutin, berhenti merokok, batasi alkohol.
  • Edukasi keluarga/pasangan mengenai dukungan psikososial dan komunikasi terbuka terkait perubahan seksual dan emosional.
  • Edukasi tanda bahaya yang harus segera dievaluasi: perdarahan pervaginam pascamenopause, nyeri dada, tanda tromboemboli (bengkak/nyeri tungkai, sesak mendadak).
  • Jadwal kontrol ulang: evaluasi respons terapi pada 3 bulan pertama, selanjutnya tiap 6-12 bulan.
10. Prognosis
AspekKeterangan
Ad vitamBonam — menopause bukan kondisi mengancam nyawa
Ad sanationamDubia ad bonam — gejala vasomotor umumnya membaik dalam 4-7 tahun, bervariasi antarindividu
Ad fungsionamBonam dengan tata laksana biopsikososial adekuat dan kepatuhan kontrol berkala
11–12. Tingkat Evidens & Tingkat Rekomendasi
IntervensiEvidensRekomendasi
Terapi Hormon Menopause (MHT) sistemik untuk gejala vasomotor sedang-beratIA
Estrogen vagina lokal untuk GSMIA
SSRI/SNRI non-hormonal untuk gejala vasomotorIA
Antagonis reseptor neurokinin (fezolinetant/elinzanetant) untuk gejala vasomotorIA
Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk gejala vasomotor & moodIA
Konseling psikososial dan keterlibatan keluargaIIB
Modifikasi gaya hidup (nutrisi, olahraga, berhenti rokok)IIB
13. Penelaah Kritis
  • Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial (penanggung jawab klinis utama).
  • Psikiater atau Psikolog Klinis (telaah aspek psikososial dan indikasi rujukan).
  • Komite Medik / Sub-Komite Mutu Profesi RS (telaah kepatuhan PPK terhadap standar nasional dan internasional).
14. Indikator Medis
  • ≥90% pasien menopause yang berkunjung dinilai gejala fisik, psikologis, dan sosial secara terdokumentasi (skor MRS lengkap dalam rekam medis).
  • ≥80% pasien mendapatkan konseling gaya hidup sehat sebagai bagian tata laksana.
  • 100% intervensi farmakologis dan non-farmakologis sesuai landasan nasional (Keputusan KKI, Konsensus HIFERI/POGI) dan internasional (WHO, ACOG, FIGO, The Menopause Society, IMS) yang berlaku.
  • Volume minimal: 2 kasus menopause dengan masalah biopsikososial komprehensif ditangani atau didiskusikan per periode evaluasi kompetensi, sesuai Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026.
15. Kepustakaan
  1. 1.Konsil Kesehatan Indonesia. Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: 2026.
  2. 2.Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (HIFERI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Konsensus Tata Laksana Menopause. Jakarta: POGI. Tersedia di: pogi.or.id (edisi/tahun cetak agar dikonfirmasi terhadap salinan resmi terbitan POGI/HIFERI).
  3. 3.The 2022 Hormone Therapy Position Statement of The North American Menopause Society Advisory Panel. The 2022 hormone therapy position statement of The North American Menopause Society (kini bernama The Menopause Society sejak 2023). Menopause. 2022;29(7):767-794. doi:10.1097/GME.0000000000002028.
  4. 4.The 2023 Nonhormone Therapy Position Statement of The North American Menopause Society Advisory Panel. The 2023 nonhormone therapy position statement of The North American Menopause Society. Menopause. 2023;30(6):573-590.
  5. 5.The NAMS 2020 Genitourinary Syndrome of Menopause Position Statement Editorial Panel. The 2020 genitourinary syndrome of menopause position statement of The North American Menopause Society. Menopause. 2020;27(9):976-992.
  6. 6.American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Practice Bulletin No. 141: Management of Menopausal Symptoms. Obstet Gynecol. 2014;123(1):202-216 (ditegaskan ulang/reaffirmed 2024).
  7. 7.Genazzani AR, Monteleone P, Giannini A, Simoncini T, et al., on behalf of FIGO Committee on Well Woman Health Care. Counseling in menopausal women: how to address the benefits and risks of menopause hormone therapy. A FIGO position paper. Int J Gynecol Obstet. 2024;164(2):516-530. doi:10.1002/ijgo.15278.
  8. 8.World Health Organization. Menopause: Fact Sheet. Geneva: WHO; dimutakhirkan 16 Oktober 2024. Tersedia di: who.int/news-room/fact-sheets/detail/menopause.
  9. 9.Davis SR, Baber R, Panay N, Bitzer J, et al., on behalf of the International Menopause Society Board. Menopause and MHT in 2024: addressing the key controversies — an International Menopause Society White Paper. Climacteric. 2024;27(5):441-457. doi:10.1080/13697137.2024.2394950.
  10. 10.Harlow SD, Gass M, Hall JE, Lobo R, Maki P, Rebar RW, Sherman S, Sluss PM, de Villiers TJ; STRAW+10 Collaborative Group. Executive summary of the Stages of Reproductive Aging Workshop + 10: addressing the unfinished agenda of staging reproductive aging. Climacteric. 2012;15(2):105-114. doi:10.3109/13697137.2011.650656.
  11. 11.Heinemann K, Ruebig A, Potthoff P, Schneider HPG, Strelow F, Heinemann LAJ, Do Minh T. The Menopause Rating Scale (MRS) scale: a methodological review. Health Qual Life Outcomes. 2004;2:45. doi:10.1186/1477-7525-2-45.
  12. 12.U.S. Food and Drug Administration/HHS. FDA requests labeling changes related to safety information to clarify the benefit/risk considerations for menopausal hormone therapies. Rilis 10 November 2025; persetujuan label lanjutan 2026. Tersedia di: fda.gov — HHS press announcement.